Setelah mengunjungi gunung Sindoro beberapa hari yang lalu, kali ini aku mencoba mengunjungi gunung sebelahnya, gunung Sumbing. Dari Surabaya malam hari, aku menuju Solo dengan bis. Subuh sedikit terang aku telah sampai di terminal untuk melnjutkan perjalanan bis jurusan Semarang, tidak ada bis langsung menuju Wonosobo pagi-pagi ini. Jadi harus menuju arah Semarang turun di pertigaan lalu naik bis kecil menuju Wonosobo.

Sekitar jam 9 pagi aku sudah berada di basecamp pendakian, ada beberapa pendaki juga yang hendak naik tapi mereka beberapa masih ada yang tidur. Aku memesan makanan dahulu untuk tenagaku hari ini. Setalah makan, langsung kembali bersiap untuk mendaki, aku terpaksa tidak bisa bareng mereka karena hari sudah siang sekitar jam 1.30, dan aku pun belum tau jalur yang hendak aku naiki. Tapi untungnya di basecamp ini diberikan peta untuk menuju ke puncaknya.

Perjalanan mulai terus menanjak sedikit landai, ada beberapa cabang diawal jalur2 ini. Untungnya ada beberapa penduduk sekitar yang bisa kutanyai dan beberapa aku memakai suara hatiku untuk memilih jalur yang belum ditandai petunjuknya. Suasana masih sepi, belum terlihat pendaki2 yang melintas.
Di pertengahan jalur aku sedikit kesal dengan beberapa serangga seperti tawon yang terus mengikutiku, menempel di pakaian dan di wajah. Aku tak mengerti apa sebabnya yang jelas aku terus jalan berharap terhindar dari kerumunan serangga ini. Rasa capek mulai meraba, aku istirahat sejenak setelah melewati pos 1. Aku mencoba membuka flanelku ternyata mereka menempel hanya di flanel dan tasku. Aku masih belum mengerti sebabnya.

Setelah meminum air sedikit, aku kembali mulai perjalanan. Angin menjadi kencang saat aku mencapai Pasar Watu. Aku terus mendaki perlahan-lahan, tak lama kutemukan dua tenda yang sudah berdiri di tengah jalur yang hendak kulewati. Kita saling menyapa dahulu, mereka menyuruhku untuk buka tenda di sini. Aku sedikit ragu karena masih penasaran ingin menuju ke Watu Kotak yang katanya bisa untuk didirikan tenda tapi setelah aku lihat sudah sore jam 3 lebih dan kabut yang sangat tebal disertai angin kencang, aku pun ikut mendirikan tenda di lahan atasnya tenda mereka. Agak kerepotan juga mendirikan tenda disaat angin kencang dan hujan sedikit gerimis. Sesudh tenda berdiri aku mengatur barang2 bawaanku di dalam. Dan istrahat sejenak sambil menulis beberapa tulisan hasil perjalananku ini. Untuk menghilangkan rasa capek dan dinginnya udara, aku mulai memasak air untuk secangkir sereal sebelum tidur.


Subuh dengan waktu tepat pukul 4 pagi aku kembali terbangun dengan suara gemuruh tenda yang terkena angin sejak kemarin sore. Persiapan perjalanan kembali kupersiapkan. Aku ragu untuk meninggalkan tenda ato tetap kembali membawanya ke atas, setelah aku pikir kembali, aku putuskan untuk membawa semua perlengkapanku ke atas. Cuaca masih belum berubah, masih dengan kabut dan angin kencang meskipun ada sedikit cerah untuk bisa melihat pemandangan gunung Sindoro di sana. Dua tenda di bawahku masih belum berkemas. Aku terpaksa jalan terlebih dahulu dengan harapan sampai di atas dengan cuaca cerah.
Setelah melewati Watu Kotak aku terus menanjak pelan2 dan angin di sini semakin kencang sekali sampai aku memegang beberapa tangkai tumbuhan sekitar. Sampai sudah aku di ujung seperti pertigaan. Tapi tenagaku sudah habis karena kedinginan dan kecapekan. Melihat ke depan angin sangan kencang berubah-ubah arah. Aku mencoba kembali turun sedikit ke lahan yang sedikit lapang, cukup untuk mendirikan hanya satu tenda. Akhirnya pagi ini aki kembali membangun tenda untuk menunggu cuaca membaik.


Sampai jam 10 pagi cuaca masih tetap extreme, tendaku tidak henti hentinya bergoyang. Dengan sangat menyesal pada diriku sendiri, aku membongkar kembali tendaku untuk menuju ke bawah setelah sarapan sereal. Watu Kotak kulewati kembali, setelah itu di bawah aku bertemu rombongan yang kutemui di basecamp sedang berjalan naik, tapi personel mereka tidak lengkap karena sebagian menunggu di Pestan. Ada juga beberapa anak SMP yang ikut dengan mereka. Aku mencoba mengatakan keadaan cuaca di atas, tapi mereka masih ingin tetap mencoba naik. Aku pun tergiur kembali ke atas. Kami sampai di Watu Kotak untuk berhenti sejenak dan akhirnya rombongan mereka pun memutuskan untuk kembali juga setelah melihat keadaan cuaca yang tetap seperti ini.

Kami turun bersama, menjumpai rombongan yang dua tenda itu lagi yang hendak ke atas tapi tidak jadi juga. Kami teruskan untuk turun langsung. Aku mengikuti mereka dari belakang. Di pos 2 kami istirahat, tapi aku tidak bisa lama karena mengejar waktu untuk kembali ke Surabaya. Lebih dulu aku pamit kepada mereka untuk turun dahulu.
Kembali ke jalanan aspal sambil menunggu bis menuju terminal Solo. Setelah kunaiki, di tengah perjalanan sebelum terminal Solo sang kondekturnya berkata kepada para penumpang kalo yang mau ke Surabaya turun di sini. Setelah aku turun ternyata sepi sekali tak ada bis yang berhenti. Aku lihat alamat di restoran belakangku, aku berada di Boyolali. Bis2 hanya lewat dengan kencang di depanku tak ada yang berhenti meskipun tanganku sudah berkali2 melambai. Dan sampai dini hari pun semakin sepi keadaan di sini. Aku mencoba menghidupkan kembali telepon genggam untuk menghubungi teman yang mungkin bisa membantu. Untung ada anak2 Oanc yang bersedia memberikan solusi kepadaku. Aku disarankan untuk menginap di daerah ini untuk menunggu pagi karena bis banyak yang mulai lewat pagi hari. Terpaksa aku tidak bisa pulang tepat waktu. Aku menginap di pinggiran jalan raya ini. Berlindung dengan tembok restoran di sampingku, perutku lapar, duit sangat mepet untuk membeli makanan. Logistik yang tersisa aku bongkar untuk kumasak di sini. Benar-benar pengalaman baruku memasak di pinggir jalan dengan dinginnya malam yang sunyi.




Pagi harinya, penduduk sekitar mulai berdiri di pinggir jalan untuk menunggu bis, aku pun bertanya kepada salah satu dari mereka transportasi menuju terminal Solo yang mana. Sampai juga aku pada terminal Solo, aku menuju bis jurusan Jogja karena hendak menemui teman Oanc juga di sana yang sebelumnya belum pernah kutemui. Dan langsung oper menuju bis jurusan Surabaya. Terima kasih teman-teman Oanc untuk bantuannya.
















Thanx to :
Paradise Savana
Clara
Hendra Endol
Dan All my Friends
No comments:
Post a Comment