INFALLiBLE FREEDOM on Mount RINJANI (16-19 Agustus 2010)



(DESTINATION WILD ALONE TO THE SUMMIT)
Kaki ini masih berpijak pada sistem
Tapi pemikiran ini bernaung ke arah timur Indonesia
Selalu...hari ini, seminggu ini, sebulan ini, setahun ini....terus menerus
Sudah cukup menahan dan menunggu
Kebebasan......
Mewujudkan mimpi....
Maafkan aku....
Pleasant
Duduk paling depan
seperti bermain sebuah game diiringi dengan video keong racun yang selalu diulang-ulang. Sore hari menjelang berbuka puasa, dan akupun lupa membawa bekal untuk menenangkan suara perut ini. Terlintas pula jaket yang ternyata lupa kubawa untuk diatas sana nanti. Sial. Tak seperti bis menuju barat, bis menuju timur ini sangat tenang dalam perjalanan, sesekali
membuatku terlelap dengan tahta yang nyaman. Waktu berbuka sudah tiba, dan aku pun hanya menelan ludah melihat kiri dan kananku meneguk sebotol air dan melumat makanan kecil. Dan 1jam lebih aku menahan dari waktu berbuka, kendaraan ini bersandar pada rumah makan, yang ternyata fasilitas dari perjalanan ini. Bagus lah, saatnya kau diam, perut...
Across The Island
Ujung timur Jawa dengan kilauan laut malam hari, dan mulai mengarungi laut sekitar satu jam menuju pulau berikutnya. Sesampai di pulau Dewata, aku langsung mencari sebungkus nasi, ga mau terulang seperti berbuka tadi. Perjalanan dimulai kembali melintasi pulau ini dari ujung ke ujung. Keindahan pulau ini tertutup tirai malam, sudah lama aku ga mengunjungi pulau ini bertemu dengan saudara2, mungkin sekarang aku melintasi mereka tanpa saling tau. Di ujung timur pulau ini aku membuka bungkus nasiku, sahur time selagi menunggu kapal penyebrang tiba menjemput untuk kembali melintasi laut menuju pulau terakhir tujuanku.

Morning Sea
Matahari pun mengucapkan salamnya di pelabuhan ini mengiringi penantian kapal yang tak kunjung tampak. Kesibukan pesisir memang tak pernah berhenti, terus berputar. Para penumpang pun terus berdatangan bersamaan dengan kendaraan2 besar yang melintas. Tak lama datang juga yang ditunggu-tunggu. Beruntung hari masih pagi dan sedikit mendung. Perjalanan laut kali ini sedikit memakan waktu lama kurang lebih 5 jam terpontang-panting di kapal. Ditambah dengan keadaan menahan makan dan minum. Jadi hanya duduk dan tidur menikmati hembusan angin laut dan ayunan ombak. Sesekali melihat keindahan langit mendung yang memberikan sedikit kesempatan matahari untuk mengintip dunia dan terciptalah cahaya seperti senter. Sedikit mencicil catatan perjalanan ini dulu. Tak lama mengantuk, kembali tidur saja. Santai.

Welcome Stranger
Aku terbangun mendengar langkah orang-orang yang sibuk menuju pinggir kapal, rasa penasaranpun jadi ikut mendorongku ke pinggir. Ternyata pulau tujuanku telah menampakkan ujung pesisirnya. Terlintas teringat keindahan pulau Bunaken, laut biru bersampingan jelas dengan laut hijau bergandengan dengan pasir2 pesisir yang membentang panjang. Selamat datang keunikan pulau Lombok. Di kapal aku bertanya pada seorang pak tua yang sedang mengamati pinggiran pulau, manakah Tanah Berapi tertinggi kedua di Indonesia. Dia menunjuk ke arah awan tebal, ternyata bersembunyi di balik awan itu. Aku hanya ternganga penasaran. Tak lama kapalpun bersandar, dan perjalanan menuju terminal terakhir kembali dimulai.



The Brave Old Friend
Ternyata ga jauh terminal dari pelabuhan. Di terminal ini aku segera bertemu teman lama yang sudah lama meninggalkan Surabaya. Baru turun dari bis, sudah didatangi pria2 berhelm, aku kira salah satu temanku itu, ternyata bukan, mereka ojek. Baru saja aku ke pinggir jalan, dia pun datang dengan muka segarnya yang berbeda dengan muka kusutku. Sebentar kami bersalaman dan berpelukan. Lalu meluncur ke kediamannya di kota Mataram. Di rumahnya aku disambut hangat dengan keluarganya. Bertukar cerita tentang Mataram dan Surabaya. Dan bercerita tentang perjuangan dia yang mulai usaha merintis dari tanah sampai di atas awan sekarang. Salut bro...

The City
Setelah panjang lebar bercengkrama, bersama temanku ini pergi mencari logistik untuk besok, dia juga sekalian beli bahan untuk berbuka di pasar. Maghrib hampir tiba dan kami masih di jalan kota sekalian mengantarkan hasil pekerjaan teman pada kliennya di daerah Senggigi. Terlihat laut tak jauh dari jalan raya ini yang tak begitu dihiraukan oleh penduduk, yah hanya aku yg mungkin tertarik terus memandang sepanjang jalan. Sesampai di kediaman teman, kami mulai berbuka bersama. Malam ini aku diajak kuliner di kota Mataram ini dengan teman bersama pacarnya. Ada beberapa warung yang di depannya terdapat halaman untuk bersantai menikmati makanan. Di sini aku diperkenalkan dengan makanan khas Lombok, meskipun tidak semua. Dengan suasana keramaian kota Mataram, mayoritas pemuda pemudi yang lalulalang naek motor maupun berjalan kaki. Seperti biasa, tidak di Surabaya, di sinipun ada pengamennya yang terus menerus bergantian mendendangkan lagu2nya. Kami pun menghabiskan makanan sambil berbincang-bincang, temanku ini ingin menemani ikut ke Rinjani tapi dia juga bingung dengan pekerjaannya, padahal sudah aku bilang ga perlu ikut, karena memang niat awalku untuk sendiri ke atas sana. Malam ini aku sengaja tidur lebih cepat karena setelah sahur nanti langsung segera berangkat.
Early Morning
Dini hari, Mataram, aku terbangun dengan alunan suara hapeku. Kubangunkan temanku untuk menikmati sahur. Sebenarnya dia memintaku untuk memundurkan keberangkatanku supaya dia bisa ikut tanpa pekerjaan yang menhambat, tapi aku sudah bertekat dan mempertimbangkan matang2 untuk target tanggal 17 Agustus sudah ada di Anjani. Sebenarnya ga enak juga, tapi apa boleh buat, klopun dia ikut, persiapannya sangat minim apalagi dia belum pernah sama sekali naek gunung manapun. Sahur habis, aku siap untuk berangkat diatarkan temanku ini naek motornya, ternyata jarak anatara Mataram ke Sembalun 2 jam lebih. Untungnya malam ini sepi jadi tancap gas. Selama perjalanan kami berdua begitu kedinginan, tak lama kita sampai di daerah Aikmel dan berganti joki, akhirnya saya menjoki.


The Village
Sudah 2 jam lebih kami bertarung dengan dingin ini, tanya sini tanya situ, akhirnya kami menemukan gerbang awal kwasan gunung Rinjani, memasuki kawasan hutan lebat dengan jalan beraspal yang menanjak. Terlihat di sela-sela ujung jalan langit sudah mulai menarik matahari untuk menyapa Indonesia. Terus kami tancap motor ini, meskipun jarum pengukur bensin sudah turun. Khawatir kehabisan bensin, bakal susah mendorong motor dalam kondisi menanjak. Akhirnya pegunungan tinggi-tinggi sudah mulai terlihat sangat megah dipadukan dengan cahaya matahari pagi. Jauh dibawah sana terlihat beberapa rumah. Selamat datang di desa Sembalun. Desa yang sangat sejuk dengan dikelilingi dinding-dinding pegunungan yang sangat dekat dengan mata. Kami sangat ternganga takjub, desa yang terselimut kabut dan ujung2 pegunungan yang disinari matahari. Seperti sebuah desa yang terisolasi dengan daerah lain. Kata temanku seperti Forbidden Kingdom...halahhh...


The Beginning
Beruntung kami menemukan bensin eceran di desa ini, segera diisi kembali. Sekalian bertanya dimana basecamp perijinan. Segera meluncur kembali, dan akhirnya tiba dengan basecamp tersebut, tampak sepi dari luar. Tetapi ternyata ada beberapa pendaki yang baru bangun menginap di sini. Aku mulai mengisi pendaftaran, dan ternyata temanku ini memutuskan ikut, aku kira dia cuma mengantar. Selagi mempersiapkan pendakianku, beberapa rombongan turis berdatangan. Kami memulai lebih awal pendakian pagi ini. Masih dengan keadaan menahan hawa nafsu. Dari jalanan aspal terus berubah bebatuan. Dari track awal, sudah terlihat keindahan puncak Anjani yang sangat jelas dan dekat, membuat semangat kami masih membakar sementara ini. Panas terik matahari lambat laun mulai terasa. Didepan kami terlihat hamparan luas padang rumput berbentuk bukit-bukit kecil seperti kita berjalan di permukaan bentangan roknya Rinjani yang duduk dengan anggun. Sudah hampir satu jam, dada ini terasa sesak, dan kepala terasa pusing. Sepertinya sudah saatnya aku menyerah dengan hawa nafsu. Kami berhenti sejenak, meneguk air yang segar. Ternyata jalur awal ini memutar ke samping gunung ini. Masih panjang.cerita perjalanan ini akan tercipta...

Shelter to Shelter
Selama track ini kami terus berhadapan dengan bukit-bukit kecil dengan hamparan rumputnya yang mengigit dan belum menemukan seseorangpun sampai hampir tiba di pos I akhirnya kami bertemu dan disalip alien2 dengan porter beserta guidenya, mereka berjalan seperti mengejar atau dikejar sesuatu. Di pos 1 ini kami bertemu kembali dengan mereka, aku bersantai dulu di bawah bayangan pos ini dan beralaskan rumput2 yang sudah terbaring dengan pemandangan Anjani di depan mata. Sengaja kami berdiam dulu di sini supaya para alien ini berangkat duluan karena percuma kalau kami berdua yang duluan. Bukit demi bukit kecil kita lalui dengan sebagian jembatan kecil penghubung bukit ini. Pos II sudah terlihat berada diantara 2 bukit kecil yang dipisahkan bekas lahar yang sudah beku menjadi batu berbentuk seperti aliran sungai. Sayang sekali aku lupa membawa kameraku karena disini bisa dibayangkan gimana besarnya lahar ini mengalir. Di sela-sela lahar beku ini terdapat genangan air yang tidak terlalu jernih, tapi aku tetap mengambilnya untuk bekal karena dapat informasi dari porter kalau Pos III airnya kering. Di pos II ini aku bertemu dengan rombongan dari Jogja, mereka habis mengunjungi pulau Komodo, jadi semakin bertambah mimpi ini dengar cerita mereka tentang Komodo. Tak lama, kami bergegas meluncur duluan menuju pos III, rombongan Jogja masih memasak di Pos II ini. Perjalanan ini semakin membuatku penasaran untuk melihat jalur-jalur apa yang akan aku hadapi di depan, dibalik bukit2 ini.
Pertemuanku pertama kali dengan tuan rumah gunung ini terjadi pos III, a big monkey santai nongkrong di bebatuan dengan camilan di tangannya. Aku pun terdiam memandangnya karena baru kali ini jarak dekat dengan monkey, terakhir melihat monkey waktu masih SMP. Sambil menunggu temanku itu datang di belakangku. Setalah dia datang kami lewat dengan pura-pura cuek. Di pos III ini kami sedikit lebih lama, karena temanku ini sudah terlelap tidur diantara arang-arang sisa bakar2, mungkin sangking capeknya dia cepat berlabuh dengan ngoroknya yang kemudian ditertawakan oleh bule-bule yang ikut nongkrong di pos ini. Aku pun mencoba berbincang-bincang dengan salah satu alien cewek asal Australia. Kebetulan dia suka diving, aku pun merekomendasikan wisata diving kampung ortuku di Bunaken sana. Aku segera membangunkan temanku untuk segera berangkat lagi menuju track selanjutnya yang disebut-sebut bukit penyiksaan. 


Hard Move
Setelah pos III terlewat, track mulai terus menanjak, dan di sini aku mulai mengerti apa maunya gunung ini. Para Alien mulai lalulalang melewatiku membuat langkah ini semakin berat dan lama, jadi terlalu sering berhenti, sedangkan hasrat ini selalu mendorong untuk terus melangkah. Aku menoleh kebelakang dan menghela nafas melihat temanku dibelakang sana, sepertinya aku harus menunggu. Rombongan dari Jogja kembali bertemu dengan kita, aku mempersilahkan mereka untuk melaju dahulu. Haripun sudah mulai sore, ujung bukit sudah mulai terlihat. Aku terus memberi semangat temanku, meskipun kakinya sudah sakit katanya dan perutnya lapar. Aku beri dia sebutir telur matang yg sudah dibawa dari Mataram. Dan akupun disuruh duluan karena dia hendak merokok dahulu, padahal matahari mulai meluncur di sisi bumi berikutnya dan yang hanya membawa senter cuma aku. Aku mulai jalan duluan tapi masih tetap menjaga jarak darinya. Plawangan Sembalun tercapai dengan panorama danau di bawah dan beberapa puncak-puncak di atas yang dibasahi sinar senja, tampak beberapa kumpulan awan membentuk seperti air terjun dari danau itu. Kegelapan datang, teman belum juga bertandang. Senter mulai kunyalakan untuk menyinari jalur dibelakangku. Beberapa manusia setengah dewa kutanyakan tentang keadaan temanku, ternyata dia lagi berusaha berjalan terus. Hati mulai merasa tak enak menunggu dia tak terlihat juga dan dingin sudah mulai menusuk inci per inci tubuh ini. Aku mencoba memberi tanda cahaya dan suara. Dan terdengar suaranya, lega juga rasanya mendengar suara itu. 


The Rest
Aku terus mendorong semangatnya karena tempat camp tinggal beberapa langkah lagi. Dan akhirnya kita menemukan beberapa tenda Alien dengan api unggunnya Berhenti sebentar untuk menumpang kehangatan perapian dan bergegas kembali menuju ground selanjutnya mencari tempat untuk mendirikan tenda. Hany tenda-tenda Alien yang terlewati sampai akhirnya bertemu kembali dengan rombongan dari Jogja, kebetulan di dekat camp mereka ada lahan kosong dan mereka mengajak kami untuk mendirikan tenda dekat dengan mereka. Aku mulai membongkar isi tas dan bergegas mendirikan tenda. Keasikan dengan tenda hingga lupa di mana temanku, ternyata dia lagi mencari kehangatan dari perapian yang dibuat oleh manusia setengah dewa sewaan rombongan jogja itu. Tenda telah berdiri, barang2 lain kuatur didalam. Sebelum aku memulai bikin makan malam, temanku datang memberikan nasi bungkus, ternyata waktu tadi aku menunggu dia sempat beli makanan dari manusia setengah dewa yang melintas, pintar.... Badannya mulai terasa meriang dan dia memutuskan untuk tidak ikut ke puncak Anjani. Bergegas dia tidur, dan aku menikmati dulu nasi bungkus ini dan menyusul terlelap.


Destination Wild Alone
Rencana awal berubah, aku terbangun disaat yang ga tepat, terlambat satu jam dari rencana sebelumnya. Saatnya menuju titik tertinggi dari gunung ini. Dan ternyata temanku tidak ikut serta karena badannya merasa demam, aku juga ga bisa memaksa karena perjalanan kita masih panjang. Aku ambil teko untuk memasak air dulu untuk secangkir sereal. Sambil meminum aku memotivasi pikiranku sendiri untuk tidak takut untuk melanjutkan perjalanan ini sendirian.
Setelah menyiapkan tas kecil dan sebotol air minum,aku segera keluar dari tenda. Menatap gelapnya sekelilingku, membuat nyaliku sedikit menurun karena selama aku berjalan sendirian ga pernah saat malam hari. Tapi rasa penasaran ini sudah menjadi obsesi yang padat. Aku mulai berjalan melewati beberapa tenda kosong yang sudah ditinggalkan penghuninya ke puncak. Ada beberapa manusia setengah dewa yang berjaga di sekeliling tenda-tenda itu. Jalan setapak terus aku jalani, beberapa bercabang hingga akhirnya sampai pada ujung jalur. Aku menerangi pandanganku ke depan ternyata jurang yang curam, sepertinya aku salah jalan. Aku kembali mundur mencari jalur yang tepat. Aku mencoba tanpa ragu,dan akhirnya aku menemukan beberapa besi penyangga untuk berpegangan. Angin di atas sini begitu kencang, beruntung pasirnya tidak selembut pasir Mahameru. Aku terus mempercepat langkahku. Melihat ke atas puncak banyak cahaya-cahaya senter dari mereka. Beberapa ada alien yang beristirahat diantara tembok2 kecil. Puncak sudah sebentar lagi tercapai. Matahari pun sudah mulai menerangi langkahku. Para Alien sudah mulai menuruni puncak, melewatiku dengan sapaan good morningnya. Sebelum mencapai puncak aku menemukan beberapa team dari Jogja yang tadi, tidak bisa ke puncak karena kakinya sakit dan tidak membawa makanan sedikitpun. Akhirnya aku memberikan bagian dari coklatku. Aku meneruskan tujuanku. Sangat spektakuler!! Bisa terlihat gunung Tambora di seberang laut sana, dan pantulan cahaya matahari dari laut. Di sisi lain juga terlihat gunung mahal, gunung Agung. Dan yang spesial terlihat desa Sembalun yang dikelilingi tembok-tembok bukit yang kokoh terlindungi kabut tipis. Hanya sebentar aku menginjakkan kaki di atas sini karena ada teman yang sudah menunggu di tenda apalagi keadaannya tidak begitu sehat. Segera mengaktifkan dulu kamera untuk mengabadikan diriku. Seperti biasa setting kamera selftimer mode. Begitu pula selama perjalanan menurun. Dan akhirnya kembali melewati beberapa Alien dengan tendanya yang sedang berkemas-kemas sambil berbincang-bincang dengan bahasa mereka sendiri. 

New Alliance
Aku bertemu kembali dengan tendaku. Temanku sudah menyiapkan makanan, selagi menyantap makanan, dia pergi untuk mengambil air. Sehabis makan lalu berkemas-kemas. Tak lama temanku kembali dengan beberapa botol air yang sudah terisi. Lalu ada dua orang yang melintas, mereka orang pribumi juga. Mereka berdua ingin langsung pulang kembali melalui jalur Sembalun karena persediaan logistic mereka sudah menipis sekali. Mendengar itu, temanku ingin bergabung dengan mereka. Aku menyarankan kepada mereka untuk ikut turun ke Danau SegaraAnakan, dan bergabung logistic. Dengan jalur Sembalun yang naik turun itu, tak mungkin temanku ini bisa sampai basecamp sebelum gelap sedangkan kondisinya yang kurang fit dan persiapan yang sangat minim, senterpun ga ada. Akhirnya mereka setuju dan bergabung. Jadi rombongan pun bertambah dengan team dari Jogja juga. Kami mulai perjalanan menuruni Plawangan Sembalun menuju Danau Segara Anakan.


Slow Down to The Lake
Perjalanan menurun ini lumayan terjal dengan jalurnya yang berbelok belok kiri dan kanan. Cuaca cerah dan panas, terkadang kumpulan awan memayungi kami dari terik matahari. Di depan kami tampak puncak lain selain Anjani, hijau dan megah. Beberapa teman ada yang kakinya sakit jadi aku memperlambat langkah, terkadang mempercepat langkah untuk mencari tempat berteduh. Lalu bertemu jalur yang sudah mulai landai tapi naik turun melewati bukit-bukit kecil seperti jalur Sembalun waktu itu. Tidak jauh dari sini sudah terlihat genangan air lalu terlihat dengan luas pemandangan yang tidak pernah aku lihat seumur hidupku, sebuah danau dengan gunung kecil yang sedang aktif di tengahnya dan dikelilingi petinggi-petinggi Rinjani. Dan beruntung waktu datang ke danau ini, rombongan yang lain sudah bergegas untuk meninggalkan campground di pinggir danau itu. Suasana jadi lebih santai dan relax. Sambil menikmati keindahan yang diselingi suara gemuruh dari kawah gunung kecil yang disebut Gunung Baru Jari itu. Hari sudah mulai sore, aku mencari ground datar untuk mendirikan tenda. Sesudah mendirikan, temanku pergi dulu untuk mencari air sekalian mandi. Aku menyusul setelah merapikan barang2 di dalam tenda.

Kalak
Aku kembali menyasar dalam mencari pemandian air panas itu. Percabangsn awal membawaku melewati pinggir-pinggir danau dan lalu tracknya menanjak sedikit, aku berhenti sejenak, lalu kembali ke jalur awal mencari percabangan lain. Menuju kebelakang danau lalu bertemu bebatuan besar yang ternyata pemandiannya ada di bawahnya. Teman2 yang laen langsung mengajak untuk bergabung. Aku belum berkeinginan langsung merendamkan diri karena masih penasaran ingin tau sekitar pemandian yang disebut Kalak Water ini. Melihat teman2 melepas tawa gembiranya, aku pun bergabung dengan mencari celana/kain2 sisa di sekitar pemandian seperti halnya mereka. Akhirnya aku menemukan celana pendek entah milik siapa. Lepas baju dan ganti celana lalu mulai berendam. Terasa lega dan damai, bersandar santai dipinggiran kolam sambil menatap ke atas awan yang sedang bercumbu mesra dengan ujung-ujung pohon. Kalak ini ada beberapa tingkat suhu panasnya. Ada yang paling panas sampai yang hangat-hangat saja. Serasa tak ingin beranjak dari sini. Setelah mengabadikan beberapa moment serta berbincang-bincang berbagi cerita, kembali ganti pakaian yang tadi, karena sekali keluar dari kolam itu gantian dingin pun menyerang. Satu persatu kami kembali naik kembali menuju camp di danau. Malampun sudah tiba, masak memasak dimulai, seperti rencana, logistic kita gabung. Jadi makan rame-rame. Team dari Jogja masak dan makan sendiri dengan porternya. Setelah makan kembali masuk tenda karena dingin mulai menusuk-nusuk. Waktu berbaring badan terasa segar tidak pegal, mungkin gara2 Kalak tadi. Dan kumulai memejamkan mata diiringi gemuruh gunung Baru Jari.


Good Morning
Sebelum Matahari terbit, aku menerbitkan bola mataku. Menanti suasana Sunrise di Segara Anakan Rinjani, sambil membikin minuman panas. Yang laen juga sedang menyiapkan sarapan serta memancing ikan di Danau. Ikan yang mudah didapatkan. Sisa nasi tadi malam kembali aku makan dengan ikan-ikan yang baru tapinya. Suasana di sini sepi dan damai. Hanya ada rombongan kami dengan kesibukan sendiri-sendiri tetapi sambil bergurau satu sama laen. Kemudian perlahan-lahan kami mulai berkemas-kemas, untuk melakukan perjalanan lagi. Sebelumnya menyempatkan poto bersama dulu. Lalu bersiap untuk menghadapi petualangan selanjutnya menuju Senaru. 


Masih dengan kesejukan pagi, dengan berjalan menelusuri pinggiran danau yang waktu itu aku kesasar mencari Kalak. Terkadang jalur licin karena bebatuan yang basah. Ada beberapa juga Alien yang lewat berlawanan arah dengan kami. Satu persatu lewat. Kami beristirahat dulu di sisi lain pinggiran danau sebelum track menuju Plawangan Senaru. Di sini terlihat dengan jelas puncak Anjani dan lubang kawah gunung Baru Jari. Tak lama kami langsung melanjutkan pendakian. Track terus menanjak jauh, dan akhirnya kami sampai pada Batu Ceper. Lahannya cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda. Istirahat sebentar mengatur nafas lalu kembali melanjutkan, jalan masih menanjak sampai akhirnya menemukan bonus, jalur landai. Beberapa tanjakan ada tersedia tali pengaman untuk berpegangan ada juga besi-besi. Setelah melihat sekeliling ternyata kita berjalan memutari tebing-tebing petinggi Rinjani. Jalur semakin menjadi seru karena kita harus memanjat bebatuan besar, beberapa jalur ada yang tertutup karena longsor. Kemudian sampailah kita pada Plawangan Senaru.


Hot Monkey
Plawangan Senaru ini memiliki pemandangan yang indah jika melihat ke arah gunung Baru Jari. Danaunya pun terlihat sangat luas. Bisa dibayangkan kalau kita terlihat sangat kecil di bawah sana. Selagi menunggu yang lain datang aku mencari tempat untuk duduk santai memandangi danau serta berlindung dari teriknya matahari. Di belakangku sudah ada jalur menurun menuju Senaru dengan ditutupi kabut putihnya. Sebagian belum ada yang datang hingga akhirnya aku kedatangan seekor monyet dari bawah bebatuan. Lumayan besar. Dia mencari-cari makanan di sekitarnya. Aku berjaga-jaga dengan bawaanku. Mencoba mengusirnya tapi malah dia hendak menyerang. Jadi salah satu cara tetap cuek tapi waspada. Rombongan belakang sudah datang, berbagi biskuit dan jajan lain. Tak lupa berbagi pula dengan tuan Senaru ini. Perjalanan aku lanjutkan lagi menuruni jalur menuju Senaru duluan. Yang lain masih berbincang dan beristrahat. Tak jauh sudah terlihat shelter berwarna hijau di bawah sana. Jalur jelas tapi sedikit licin karena pasirnya. 

Alien’s Camp
Beberapa Pos satu per satu terlewati, sesekali menunggu rombongan yang dibelakang dulu sambil menikmati alam Rinjani. Aku jauh-jauh datang ke sini untuk menikmati sepuas-puasnya mimpiku yang menjadi kenyataan ini. Meskipun harus mengorbankan imanku yang pengecut ini. Selama perjalanan turun aku bertemu dengan rombongan orang tua, sepertinya warga Lombok, karena mereka cuma membawa beberapa perbekalan. Sempat berbincang-bincang sebentar, ternyata mereka hendak melakukan sembahyang di Danau Segara Anakan. Jalur di sini berdebu jika siang hari yang cerah. Rencana kita bermalam di pos III tetapi sesampainya di sana ternyata sudah banyak tenda berdiri. Ada beberapa ground kosong, sang manusia setengah dewa sewaan Team Jogja segera mendirikan tendanya sedangkan aku bingung mencari beberapa lahan untuk tendaku. Sebelumnya aku mencoba menuruni jalur sebelah kiri untuk mengisi persediaan air. Ternyata airnya tak mengalir, jadi hanya ada genangan saja. Setelah perediaan terisi kami bergerak untuk turun lagi, tenda team jogja dibongkar kembali karena ada lahan yang cukup luas di bawah pos III ini. Di sekitar pos III ini kondisinya lumayan jorok, banyak tisu-tisu berserakan dan bau kotoran manusia. 

The Last Night
Sudah mulai gelap, kita mulai mendirikan kembali tenda. Di daerah ini keadaan hutannya sedikit mulai rindang. Dinginnya mulai terasa seiringan dengan berhentinya pergerakanku. Masak lagi, masak nasi, beras terakhir, lauk pauk terakhir, yg awalnya logistic ini aku estimasikan untuk pendakian sendirian akhirnya temanku mendadak ikut lalu ketambahan dua orang yang bertemu di Plawangan Sembalun tadi. Beruntung kita bisa mengatur semua logistic ini bersama. Telur yang direbus dari Mataram ikut dihidangkan karena ternyata belum membusuk. Makan dengan lahap diselingi dengan canda gurau dan berbagi pengalaman seru. Kembali masuk tenda, aku dan temanku berbincang-bincang di dalam tenda, bercerita sepak terjang kita sewaktu SMA, kenakalan-kenakalan waktu itu, sebagai pengiring tertutupnya mata.


The End of The Gate
Sinar matahari terbit mengintip di sela-sela tenda, terbangun dengan santai, bikin air panas lagi untuk sambutan mentari. Dahan-dahan pepohonan mulai bergerak-gerak disekelilingku. Bukan karena angin melainkan monyet-monyet yang berdatangan melihat dengan tajam keberadaan kita. Segera kita bergegas, dua orang meninggalkan kita dulu karena ada yang kakinya sakit. Aku segera mengumpulkan barang-barang sambil mengawasi monyet-monyet ini. Packing selesai dan langsung berangkat. Aku berangkat terakhir. Temanku sudah duluan bersama yang lain. Turun dengan sedikit menambah kecepatan. Sesekali bertemu para Alien yang sedang naik. Say hai, good morning, mencerminkan kita orang indonesia yang ramah tamah. Hehehe...
Ada juga di belakang menyusul para Alien itu. Sempat aku mencoba untuk tidak dibalap oleh alien di belakangku, secepat mungkin turun sambil mendengar langkah di belakangku yang semakin mendekat. Dan akhirnya langkahku melambat bertemu dengan dua Alien perempuan lagi turun juga. Lumayan cepat mereka turun, yang awalnya aku dikejar, sekarang aku mencoba mengikuti langkah mereka. Dan akhirnya bertemu dengan Gerbang pintu Jalur Senaru. Di sini ada warung untuk membeli beberapa makanan ringan dan minuman. Setelah menyamil sebentar aku melanjutkan perjalanan lagi menuju basecamp Senaru.


Sendang Gile
Sesampai di basecamp Senaru, kami berpisah dengan rombongan lain. Aku dan temanku naek ojek untuk balik ke Sembalun mengambil motornya temanku ini. Tapi sebelumnya aku ingin melihat air terjun di Senaru ini, jadi ojek mengantarkan kami di depan pintu masuk Sendang Gile, temanku ga mau ikut karena kakinya sudah tak kuat lagi, ingin segera beristirahat. Jadi aku turun sendirian ke air terjun ini. Waktuku tak banyak karena ojek yang tadi akan segera datang ke depan pintu masuk air terjun untuk mengantarkan ke Sembalun. Jadi aku hanya sampai Sendang Gile, sebenarnya masih ada beberapa air terjun setelah Sendang Gile ini yang menarik.
Duduk sebentar di atas batu besar menghadap ke arah air terjun. Sambil menikmati kepuasanku setalah pencapaian mimpi ini.....Gunung Rinjani....


No comments: