Destination Wild Alone at Mount Merbabu (7-9 Juli 2010)

Keberangkatan saya mulai dari Surabaya, diantarkan sahabat ke Terminal Bungurasih. Jantung mulai berirama cepat setelah turun dari motor, tapi ini sudah tujuanku dari awal…

Petualanganku seorang diri akan segera dimulai…

Chapter One : Cold Bus

Di dalam terminal aku bingung yang mana bis menuju Solo ditambah lagi para pemburu yang cerewetnya ga pernah berhenti, sebelumnya aku sempatkan beli 2 bungkus roti dan beberapa coklat jajanan lawas “Coki-coki” buat perjalanan.

Pusing2 akhirnya kujawab pertanyaan “mau kemana,mas?” dari pemburu, mereka langsung menunjuk bis yang bertuliskan Mira…di dalamnya hanya terdapat kurang dari 10org. Mira pun berangkat, terasa mengantuk tapi badan digoyang2 oleh dinginnya AC, sedangkan kondekturnya malah nyaman tidur di sebelahku, lubang AC di atas kututup tp masih tetap dingin mungkin karena sedikitnya penumpang. Sambil merasakan suhunya kumelihat keluar kaca bis, tampak wajah yang ga penting ini tersayat-sayat kejamnya gambaran kota….

Chapter Two : Complete Market

Terminal Solo pun menyambutku dengan suasana subuhnya. Dan kulanjutkan perjalanan ke perempatan Pasar Sapi, aku membayangkan kalau ada pasar yang penuh sapi di sana, ah, itu hanya gurauan hati menghibur diri. Aku duduk di bangku paling depan ditemani carrierku yang gagah menurutku, dan segenggam jajan khas Solo yang sedikit aneh juga rasanya. Penumpang silih berganti hampir setiap tikungan. Orang pertama di sampingku seorang gadis berkerudung, lalu tak lama berganti seorang ibu dengan anak yang digendongnya. Perempatan Pasar Sapi Salatiga aku disuruh turun oleh kondektur, karena bakal ada little bus menunggu. Sebelum keluar ibu di sampingku tadi mengingatkan kalau ponselku tertinggal di kursiku, tapi ternyata bukan milikku mungkin milik gadis berkrudung tadi, yah, pengen punya niat agak jahat tapi bukan ini tujuanku, jadi aku jujur saja memang berat kalau jujur. Pada perempatan ini ternyata memang ada pasar dibaliknya, yeah, saatnya melengkapi logistikku, beli sarden dan kertas minyak buat piring yang menginspirasiku saat pendakian Semeru waktu itu.

Chapter Three : Last Village

Sebuah pertigaan Kopeng tempatku menginjakkan kaki keringku, terlihat sesosok pria berdiri di ujung jalan, menunjuk arah Desa Cuntel ke jalan menanjak. Pasrah aku melihatnya dan mulai melangkah. Terus terang dan jujur, memang sangat jauh desa itu, orang di sana bilang desa itu adalah desa terakhir. Melewati jalan berbatu yang sengaja disusun sedemikian rupa sehingga membuat kaki sedemikian rupanya. Lega rasanya melihat beberapa rumah yang berdiri di sela2 kaki gunung ini. Selamat datang di basecamp Merbabu desa Cuntel.

Chapter Four : Nice Gatekeeper

Di Basecamp kubertemu dengan Pak Tono, berbincang-bincang di depan sambil duduk2 seakan-akan saya wakamsi (warga kampong sini). Beliau cerita banyak tentang pendaki yang datang dari penjuru mana saja. Sesekali perut ini menyela berbincangan, sebenarnya aku sungkan bertanya kepadanya di mana beli makanan tapi mau apa lagi, akhirnya beliau menelpon seseorang untuk dibikinkan makanan. Dan tanpa basabasi teh hangat pun telah tersedia, aku benar2 merasa berhutang budi padanya. Selagi menunggu makanan, beliau menunjukkan beberapa foto tentang Gunung Merbabu serta menjelaskan jalur2 yang akan aku lewati.Beruntung aku bertemu beliau. Tak lama makanan pun tiba....

Chapter Five : Time hug The Trails

Makan usai, beli korek, beli sebotol minum dan shampoo, kepala serasa gunung salju. Mandi sejenak. Dan packing kembali, suasana menunjukkan sudah siang hari. Aku bergegas mengganti celana pendekku dengan celana panjang karena aku dah mendapat pelajaran waktu di Gunung Raung kemarin, kedua kaki melewati beberapa samurai ranting. Setelah bersalaman dengan beliau, akupun memulai perjalanan liarku dari sini. Jalurnya sudah nanjak di perkebunan penduduk, aku memaksakan melangkah sampai bertemu pos. Targetku sebelum gelap sudah harus sampai ke pemancar. Yeah, target.... Jalur masih terus ke atas, aku berusaha berhenti dengan berdiri saja dan tidak membuang waktu karena aku ga bisa menebak apa yang akan aku lalui.

Chapter Six : First Challenge

Pos bayangan yang aku tak mengerti kenapa ada bayangan2 pos sudah terlewati, melewati ranting dan daun2 segar yang masih basah layaknya tanaman rumah yang setiap pagi kita sirami. Sesekali aku melihat belakang untuk mendapatkan dorongan dari pemikiran lemahku. Tetapi dorongan itu belum terlihat, tertutup oleh tebalnya kabut Merbabu. Apa yang aku takutkan akhirnya datang, hujan. Hanya rintik, dan aku tetap menjalankan jalur ini tapi ada perdebatan di dalam pikiran ini dipengaruhi hujan yang terkadang agak mulai kencang dan rintik kembali. Jas hujan, pasang atau nanti. Dan akhirnya hujan deraspun menyambutku, aku berusaha melawan dengan jas hujanku. Entah kenapa keadaan alam ini semakin menjadi selaras dengan perlawananku. Suara gemuruh guntur terasa sangat dekat diselingi hembusan seperti kita telah dilewati truk melaju kencang. Pos II yang tulisannya tertancap di pohon membuatku berhenti dan membuka flysheet untuk tempat berteduhku. Memang nyaliku tidak besar untuk melanjutkan ke Pos III dulu, entah kenapa mental ini menurun. Jas hujan kubuat alasku tapi aliran deras air mengalir terus membuatku tetap waspada pada barang2ku, kesalahan tidak sempat membuat jalur air sekitar flysheet karena aku sangat bingung dengan barang2ku dan mungkin selagi aku menggali, barang2ku sudah habis dilahap air. Sebisa mungkin aku duduk dengan santai di depan kompor yang sedang memasak air untuk minum susu coklat.

Chapter Seven : Target

Ditemani hujan, guntur, dan aliran air yang nakal, aku menikmati susu coklatku. Hangat, yeah, itu yang aku butuhkan untuk menenangkan panikku. Aku melihat jam tangan tangguhku, sudah hampir sore. Aku mematok hujan dengan waktu untuk menjadi dimana tujuanku nanti berhenti. Dan target hanyalah target, diluar perkiraan. Sebelum pemancar, rumput2 sudah mulai memerah tersinar oleh matahari yang hendak meninggalkanku, aku memaksakan melewati jalur menuju pemancar setelah sabana kecil dan terhenti melihat pemancar yang sudah mulai diselimuti gelap. Bergegas aku kembali ke sabana kecil itu, membuka kembali flysheetku yang masih basah untuk tempat penginapanku. Sambil melihat targetku yang menjulang tinggi di sana. Aku menyesal dengan keadaan mentalku, aku akan menghadapi gelap dan aku ga pernah tau jalur yang aku lewati tapi aku malah memilih untuk bermalam di lahan ini. Yeah, pos III. Tapi penyesalanku terobati dengan warna yang diciptakan matahari sebelum tenggelam, di bawah dan di atas tertutup gumpalan awan yang menakjubkan. Seperti lantai bertingkat, diatas masih ada lagi atas. Di sini, saat ini, hanya aku dan alam liar ini. Selamat malam Merbabu....

Chapter Eight : Bad Water

Oh tidak...tidak.... Bangunku kesiangan, bukan karena terhanyut dalam sleepingbag tapi karena susah tidur malam tadi. Segera kembali memasak air untuk minum susu coklat, selagi menunggu matang, aku sarapan roti yang aku beli di terminal surabaya kapan hari itu. Entahlah kenapa aku ga memikirkan nama hari sekarang. Segera aku packing kembali. Targetku berubah, bukan ke pemancar tapi langsung ke para petinggi Merbabu dan langsung turun Selo sebelum malam kembali datang. Langkah kupercepat, tapi ternyata perjalanan ke pemancar saja sudah demikian beratnya. Pikiranku tetap fokus ke para petinggi Merbabu. Dan akhir aku mencapai pemancar ini dan melihat2 dalam ruangan yang penuh dengan kerajinan tangan manusia. Tak perlu berlama, aku langsung menjalani jalur yang terlihat jelas seperti punggung sapi. Tapi langkahku terhenti setelah mendengar deru deru air. Teringat kata petunjuk pak Tono kalau di sini ada mata air, ah sial ingatanku mulai kumat lemahnya. Aku menuruni disamping jalur ini, dan bertemu air seperti ingin keluar dari tanah ini. Aku ga bisa menolak rasa penasaranku dengan air ini, dan mulai mencicipi. Ohohohoho, mungkin lebih baik air vodka daripada air ini, ini kawah!!! Setelah tertawa bahak sendiri, cepat2 aku naik kembali ke jalurnya.

Chapter Nine : Doubt

Menelusuri kembali jalur menuju persimpangan yang masih lumayan jauh, di sini lumayan ada yang jalur naik, landai, dan sedikit menurun. Di tengah jalur aku menemukan tulisan ”buntu” yang menunjuk arah ke atas, dan itu adalah heli pad. Sebenarnya ada jalan landai di sebelahnya tapi aku penasaran dengan heli pad ini. Aku mencoba membayangkan gimana sebuah heli mendarat di sini, ga perlu melakukan perjalanan seperti ini, langsung pake heli ke pemancar. Tapi kurang seru, ini bukan berwisata. Dari sini kumemandang para petinggi Merbabu di sana, terkejut karena ada gumpalan kabut mulai datang dari arah balik sana. Segera aku menuruni heli pad dan menuju ke sana. Keraguanku mulai timbul kembali setelah sampai di persimpangan para petinggi Merbabu ini. Hanya terlihat persimpangan ini dan tak tampak para petingginya, kabut tidak lagi putih disini tapi mulai berwarna abu2. Aku menoleh kebelakang, pandangan menuju pemancar yang masih terang di sana. Kalau aku teruskan menuju petinggi, aku sadar aku sendiri dan jalur yang belum pernah aku ketahui ada di sana tertutup kabut dan hanya aku yang bisa menyelamatkan diriku sendiri itu pun kalau bisa. Dengan berat hati aku kembali menuju pemancar itu. Jalur menuju pemancar pun juga sudah disapa kabut.

Chapter Ten : Long Day I

Sesampai di pemancar aku bertemu dengan 3 pemuda yang ingin juga memuncak tapi menundanya karena kondisi yang sama dihadapi mereka. Para petinggi tertutup kabut dan tak lama jalur pun juga tertutup. Sekarang hanya ada pemancar dan kabut. Carrierku yang gagah kuistirahatkan di dalam ruangan pemancar dan aku hanya bisa duduk terdiam di depan pemancar memandangi para petinggi Merbabu yang sedang berbincang2 serius dengan kabut gelap itu. Sampai sore pun mereka masih saja berbincang. Aku menundukkan kepalaku, sedangkan 3 pemuda ini dengan asiknya saling berfoto. Terlintas bayangan burung lumayan besar dan kami melihat ke atas ternyata benar ada burung besar, entah itu burung apa yang jelas sangat jarang aku hadapi burung yang melebarkan sayapnya dekat dengan pandanganku. Cepat2 aku mengambil kamera dikantongku,ahhh, kancing ini menghambat. Dan dengan santainya burung itu masuk ke dalam kabut. Aku maupun 3 pemuda itu gagal dapat fotonya. Tak lama 3 pemuda itu kembali ke perkemahan mereka di bawah sana jalur wekas, dan gagal puncak mungkin karena mempunyai sedikit waktu. Aku tetap akan kembali ke persimpangan itu besok pagi bahkan lebih pagi dari sebelumnya. Tapi hari ini malam masih beberapa jam lagi datangnya, aku mencoba mengisi waktu dengan mengatur ruangan dengan barang2ku, ponco dan matras sebagai alas, sleeping bag sebagai selimut, peralatan masak aku atur di pojok ruangan. Seperti mau menempati rumah baru saja. Tembok2 ini sebagai ganti flysheetku. Aku menhentikan aktifitasku sejenak karena ada suara orang lain sedang mendekat. Aku mencoba menengok keluar pemancar, ternyata benar ada 2 orang pemuda yang ingin juga bermalam sepertinya. Mereka juga hendak berdiri di atas sana esok pagi. Aku persilahkan mereka untuk masuk ke dalam ruangan, sepertinya mereka kurang berminat untuk menetap di dalam, mereka memilih untuk tidur di luar, hari sudah mulai sore dan hujan pun akhirnya turun kembali. Mereka kembali masuk untuk berteduh. Dan keluar lagi setelah hujan reda, sedangkan aku menyibukkan diri untuk menulis sebagian perjalananku ini. Malam sudah tiba. Aku mencoba tidur lebih awal sesudah makan malam dengan sisa rotiku. Selamat malam kembali Merbabu.


Chapter Eleven : Get Up and Go

Entah kenapa malam ini setiap satu jam aku terbangun. Subuh aku mulai memasak nasi, akhirnya masak nasi juga. Dilanjutkan dengan masak sarden yang dibeli di Pasar Sapi kapan hari itu. Aku melahap habis makanan ini dan airpun hanya sisa 1 liter untuk di perjalanan nanti. Benar2 merasakan kelaparan aku saat ini. Sebelum terang, aku melihat keluar, begitu indahnya terlihat gemerlap lampu2 kecil jauh di bawah sana dipadukan dengan langit yang mulai membiru. Segera membersihkan nesting, packing kembali. 2 pemuda itu baru bangun juga, tapi aku terpaksa harus duluan berangkat ke persimpangan karena ga ingin mengalami kabut seperti kemarin. Setelah pamit dengan mereka, aku mempercepat langkahku. Aku memilih untuk tidak mengambil air dulu di bawah heli pad, karena perhitunganku air 1 liter di kantung air dan makanan di perut ini cukup untuk sampai turun Selo. Persimpangan kembali kudatangi dan para petinggi Merbabu sedang asik bermandikan cahaya matahari. Langsung mengambil jalur kanan menuju petinggi Merbabu ”Kenteng Songo” dan ”Triangulasi”. Maaf tidak sempat menghampiri petinggi ”Syarif”.

Chapter Twelve : Proud

Tanjakan pertama sebelum Kenteng Songo aku daki, sebenarnya ada jalan landai samping kiri. Tapi tetap rasa penasaranku ga mau mengalah. Dan ternyata untuk turun setelah tanjakan itu seperti menuruni wallclimbing. Perasaanku sedikit senang karena bertemu dengan medan seru seperti ini. Setelah turun aku kembali berjalan agak landai dan langsung berhadapan dengan tebing besar, jalur terakhir menuju Kenteng Songo. Mungkin kalau diukur dengan penggaris jangka, ukurannya 90 derajat miring. Mantap pikirku. Aku membentangkan tanganku di atas sini. Merasakan tingginya aku berpijak...Puncak Kenteng Songo. Di sini terdapat batu batu yang unik bentuknya dan pemandangan Selo masih tertutup kabut hanya terlihat pemandangan pemancar. Puncak selanjutnya yang aku tatap adalah ”Triangulasi” gerbangku menuju keadaan yang berbeda dari sebelumnya. Aku mulai memasang pengatur waktu untuk memotret diriku sendiri. Selanjutnya tiba di puncak Triangulasi. Dari sini terlihat jelas Gunung Merapi daripada dari Kenteng Songo yang tertutup kabut tadi. Dan yang menakjubkan terlihatlah jalur Selo dengan bentangan indah sabana-sabananya mengarah ke Gunung Merapi.

Chapter Thirteen : My Strife

Aku belum berani mengucapkan selamat tinggal pada Merbabu karena perjalananku belum usai. Sekarang yang aku hadapi adalah bukit-bukit sabana yang sangat luas dengan bumbu pemandangan Merapi di sana, yang sangat mengkhawatirkan adalah jalurnya yang bercabang-cabang. Patokanku jalur kiri dan arah ke Merapi. Perjalananku agak lama di sini karena aku harus menunggu argumen2 pikiranku tentang pemilihan jalur yang benar. Rumput-rumput lebat sudah hampir menutupi jalur yang aku lewati. Sesekali aku mencoba menikmati indahnya sabana dan ribuan tanaman yang indah meskipun masih ada perasaan gelisah. Dan belakangku sudah mulai berdatangan kabut tebal menutupi petinggi Merbabu itu. Langkah kupercepat, pikiran mulai konsentrasi pada jalur ini. Sabana-sabana sudah aku lewati dan mulai memasuki hutan lebat dengan jenis jalur yang sama, bercabang kemana-mana dan hampir tertutup dan ada satu ”in memoriam” di sini, entah kenapa dipasang di tengah jalur ini. Langkahku terhenti ketika mengetahui kalau posisiku berada hampir masuk lembah dan melenceng dari arah Merapi. Aku berdiam dan membungkuk sambil menghembuskan nafas kencangku. Ada pilihan aku lalui jalur lembah ini atau aku memotong ke atas lagi dengan harapan menemukan jalur yang jelas. Terpaksa aku mulai memotong jalan naik untuk mendapatkan jalur yang benar. Akhirnya aku menemukan jalur yang sedikit jelas dan keras tanahnya. Aku ikuti terus dan akhirnya aku bertemu dengan penduduk yang sedang mengambil kayu. Ternyata benar ini jalur menuju Desa Selo. Aku ikuti terus jalur ini masih melewati beberapa bukit-bukit kecil. Dan menemukan perkebunan penduduk. Aku senyum-senyum sendiri karena merasakan leganya menemukan jalan yang benar. Dentuman musik gamelan sudah mulai terdengar. Seperti ada yang sedang menikah. Akhirnya terlihat beberapa rumah di bawah sana, selamat datang Selo....

Chapter Fourteen : Long Day II

Kembali ke jalan beraspal, salah satu ciri khas kota. Pada penduduk sekitar aku bertanya arah untuk ke Desa Selo, ternyata masih jauh melewati aspal aspal ini. Terakhir aku menemukan penunjuk jalan Merbabu di jalan raya ini. Dan aku mengucapkan Selamat Tinggal Gunung Merbabu.........

Selamat Datang Gunung Merapi..... Perjalanan ke basecamp Merapi ternyata masih jauh dan nanjak. Hari pun masih siang, aku berjalan santai menuju basecamp Merapi. Setelah tiba di basecamp, menghidupkan ponselku yang sengaja aku matikan waktu di Merbabu dan mengabari teman2 dari Surabaya yang hendak menyusul ke basecamp Merapi esok hari. Perut terasa sangat lapar dan aku ingin sekali makan makanan enak, akhirnya aku kembali turun jauh dari basecamp Merapi untuk mencari makanan karena di basecamp orang2nya sedang menghadiri perkawinan. Seharian di basecamp Merapi, menginap dengan kabut-kabut nakal, dan melanjutkan tulisan perjalananku. Esok hari aku akan menyapa para petinggi Merbabu dari Puncak Merapi.

2 comments:

ste said...

nice share bro...kapan-kapan nyoba merbabu...

sipp..

iDiOTiQUE said...

thanx Ste.....hehehehe