

Mungkin cerita kali ini tidak terlalu panjang atau dipanjang-panjangkan…Keberangkatan pertama aku mulai dari turunnya kakiku ini di tanah penuh solar Terminal Bungurasih....atas informasi seorang teman dari OANC, ”gajah besi” yang kutumpangi menuju ke Jogja.....
Berangkat mulai jam10malam, dengan estimasi sampai Jogja subuh, lanjut gajah besi ke Magelang, naik lagi gajahbesi mini ke desa Kledung-Wonosobo sebelum jam8pagi. Weleh, molor....akhirnya sampai Kledung jam9kurang dikit.

Di basecamp Sindoro aku berjumpa dengan rombongan yang sedang berkemas, tp berkemas hendak pulang. Mereka berhati baik memberikan 2botol air, tapi yang aku ambil Cuma 1botol, ga pengen berat hohoho....lagi pula cukup bawa 3botol. Aku tinggal dulu perlengkapan di sini untuk mencari dan membeli dan mengisi isi perut ini. Aku menemukan warung yang menjual nasi rames, selagi duduk santai kumelihat ke lantai ada beberapa tumpukan bungkus2 di pojokan....aku kira sampah ternyata itu dia nasi ramesnya....oalah....


Setelah lahap kulumat, pesan teh anget. Agar menghemat waktu aku minta dibungkus, jadi bisa diminum sambil jalan balik ke basecamp. Daftar dulu dengan meninggalkan bukti keberadaanku di negara ini. Terlalu terburu sehingga rencana awal ganti celana panjang jadi lupa, ga masalah. Jam9lebih aku mulai menghidupkan mesin dengkul ini. Karena letak basecamp berada di sela-sela perkampungan, aku bingung mencari awal jalur yang mau aku lalui. Toleh kiri...toleh kanan...dangak dikit...merengut dikit...akhirnya bertemu beberapa anak kecil yang menunjukan arah awal pendakian. Bertemulah dengan jalur2 yang umum di pegunungan Jawa.....makadam alias jalur batu....
Ternyata lumayan jauh nih jalur, melangkah dan menyapa penduduk sekitar seperti barisan semut yang menyapa sesamanya. Ramah2 meskipun ga mengerti bahasanya...yang penting jawab ”enggih, monggo” hahaha. Tetap semangat, atur pikiran. Pikiran sempat kabur seperti kabut yang aku liat di depan dan belakangku, no view just all white. Bisikan ”hajar” tetap bergejolak...ok, hajar...!!
Jalan berbatu semakin sempit lalu habis berubah menjadi jalan tanah hutan setapak. Tak lama berjumpa Pos I, memandangi sebentar lalu lanjut jalan lagi. Kabut masih terus menemaniku dan akhirnya bertemu percabangan, beruntungnya ada tanda arah kanan. Tak lamapun berjumpa pos 2, ada beberapa seng yang bergletak, katanya sih dulu ada bentuk posnya.
Lanjut menuju pos 3 lahan agak sedikit mulai terbuka dan jalur lumayan panajng untuk menuju pos 3 ini. Di sini aku bertemu dengan 2 orang pemuda yang lagi berkemas hendak menuruni gunung ini, bertanya-tanya sebentar tentang kondisi Sindoro ini, lalu aku melanjutkan perjalanan dengan harapan menemukan lahan yang cocok dan agak atas dari pos 3.Hari pun dah mulai sore dan matahari tetap bertopeng kabut. Dan sepertinya kabutnya mulai berubah warna sedikit abu2, aku menemukan lahan yang pas buat tempat menginap, segera dengan sedikit buru2 membongkar isi tas lalu memasang shelterku. Untung bikinnya simpel ga begitu ribet, masukkan semua ke dalam lalu bikin got kecil sekitar tenda. Pengalaman kemarin di Merbabu ga pake got airnya mengalir dengan santai di bawah bokong....

Semua sudah kuatur di dalam, lalu melihat sekitar tempatku bertinggal. Tak lama pun hujan turun tapi hanya gerimis kecil lalu disusul deras. Angin-angin yang menggoyangkan tanaman dan pohon menimbulkan suara seperti kita di pinggir pantai. Sedikit terhibur dengan sugesti seperti itu. Hari sudah gelap, langsung memasak nasi, asik juga masak di dalam tenda. Disusul dengan goreng ikan asinnya.... oke, makan malam siap.Sebelum subuh aku terbangun dengan suara beberapa langkah. Lihat jam, sepertinya kesiangan nih jam stengah4. Setelah semua kembali masuk ke dalam tas, minum susu dulu dan langsung tancap puncak. Awal yang bersemangat.....

Sebelumnya aku menyimpan sebotol air diantara semak2 agar nanti turun kembali dengan cadangan air tersebut. Jalan terus menanjak hingga senterku pun kalah dengan penerangan alam ini. Pohon-pohon sudah jarang terlihat, hanya rumput2 dan bebatuan yang menanjak hingga dengkul sejajar dengan wajahku. Pertangahan jalan aku menemukan bebatuan bertumpuk2, apa mungkin ini yang disebut Batu Tatah.... Pandangan depan dan belakang terkunci oleh kabut tebal, jarang terlihat Gunung Sumbingnya di belakang. Selama perjalanan aku memikirkan beberapa orang yang naek tadi subuh, kenapa mereka belum turun? Atau mungkin mereka turun dengan jalur lain? Atau mereka membuka tenda di atas? Atau mungkin tadi subuh itu hanya suara??
Tak lama mulai terdapat banyak tumbuhan yang biasanya dekat puncak, Edelweis. Semakin ke atas semakin banyak, tetapi ada banyak juga yang terbakar hingga tersisa rantingnya.....Yap....Puncak akhirnya tercapai dalam 2jam lebih dari tempat shelterku. Sedikit tak terkejut gembira karena kawah yang mati ini tertutup kabut tebal sampai bibir kawah di ujung sana. Aku mencoba mengelilingi kawah ini, dan bertemu sebuah tenda yang berdiri diantara Edelweis. Ternyata ini mereka yang tadi subuh naik. Di samping tenda mereka aku mencoba menggoreng telor untuk melanjutkan nasi yang tersisa tadi malam. Dengan minuman penutup secangkir madu hangat sambil melihat sekeliling puncak ini ya meskipun terlihat samar.

Aku kembali berkemas lalu melanjutkan keliling bibir kawah. Ternyata di Puncak ini terdapat beberapa lapangan luas seperti sabana kecil lengkap dengan rerumputannya. Akhirnya bertemu kembali dengan meraka yang tadi subuh naek, mereka berasal dari Magelang. Tak lama mereka masuk ke dalam tendanya untuk tidur, mungkin mereka sambil menunggu kabut ini meninggalkan puncak meskipun anginnya sedikit kencang. Tas kembali kubongkar, matras, plonco dan sleepingbag aku keluarkan untuk tidur sebentar di puncak ini, dengan catatan kalau sampai jam11 belum juga cerah, terpaksa aku turun karena waktunya sempit.
Ternyata memang kondisi puncak tetap seperti ini sampai siang, sebaiknya aku mulai turun. Mungkin sedikit kecewa dengan keadaan alam ini tapi itu lah alam. Yang jelas aku dah berusaha sampai puncak Sindoro.Perjalanan turun aku terhibur dengan pemandangan lahan hijau yang begitu luas dengan sedikit batu2 besar. Untunglah perjalanan turun setelah puncak kabutnya sedikit memberikan kelonggaran untuk mata ini memandang keindahan Sindoro. Langkah turun kupercepat meskipun memang dengkul sudah terasa seperti kain diperas. Aku kembali memeriksa persediaan air yang kutinggal ternyata masih ada. Syukurlah.....


Basecamp pun kusapa dengan suara perut yang memberotak, aku tahan dulu sampai terminal Magelang nanti. Di terminal Magelang sudah tersedia gajah besi yang siap meluncur menuju Jogja tapi setelah penumpang penuh dan itu yang memberikan aku kesempatan untuk ke warung pas disebelahnya. Menikmati nasi bungkus sambil memandangi manusia yang lalulalang bingung, berlarian ke sana kemari, keluar masuk gajah besi itu. Penghabisan dengan segelas teh hangat....
Lama ditunggu akhirnya sang pengemudi menduduki tahtanya.... Selamat tinggal Sindoro
No comments:
Post a Comment