Di sini saya akan berbagi cerita tentang perjalanan kami bertiga di tanah Sulawesi Selatan, dari tanah tertinggi Sulawesi hingga pesisir
Kami bertiga adalah :
Juny Angan kaskus Tarantula3 sebagai Mountain Medical Elite (MME)
Awaludin Jamil sebagai Mountain Runner Pro (MRP)
xbandroLx sebagai penulis
Day 1
Saya memulai cerita ini dari Surabaya, dengan berangkat menuju pulau Sulawesi melalui jalur udara dengan menaiki burung besi atau umumnya disebut-sebut khalayak umum adalah pesawat. Waktu antara Surabaya dan Sulawesi berbeda 1 jam, begitulah yang diumumkan dalam burung besi sebelum mendarat di tanah Sulawesi Selatan ini, jika semisal di Surabaya jam 6, di Sulawesi sudah jam 7. Perjalanan udara memakan waktu 1 jam lamanya.
Akhirnya setelah sekian tahun lamanya saya kembali menginjakkan kaki di tanah leluhur ini. Sedikit cerita yang masih tersangkut dalam otak yang error ini, setidaknya ada lah. Selasa tepat pada tanggal 22 February 2011 pada pagi hari saya keluar dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar, untuk menunggu MME dan MRP yang berangkat dari Jakarta. Di sini juga ada beberapa ojek yang mampu mengantarkan kita. Setelah bertemu mereka berdua, kami bertiga menuju keluar area bandara dengan ojek tersebut. Sebelumnya saya ingin menjelaskan perkenalan kita bertiga pertama terjadi di tanah Semeru waktu itu silam.
Sampai di tempat yang dituju,kami mulai kebingungan atau mungkin saya saja yang bingung. Karena melihat beberapa alat transportasi yang berbeda tujuan dan berbeda bentuk, mobil keluarga di sini dibuat sebagai alat transpotasi umum dengan warna platnya yang khas berwarna kuning. Orang sekitar sini berbaik hati memberitaukan jika ada mobil yang hendak menuju Baraka, rute kita hari ini dari Makassar menuju Barraka. Tak lama muncullah batang hidungnya mobil itu, dan meluncurlah kita ke Barraka.
Sore hari kami sampai Barraka, tepatnya turun di depan pasar Barraka. Di sini kami bertemu dengan seorang teman yang sebelumnya sama sekali belum kenal, dia adalah saudaranya teman saya, teman sewaktu sekolah dulu. Dia berbaik hati mengajak kami ke rumah panggungnya. Rumah yang simple dan nyaman. Semua terbuat dari kayu. Dengan sambutan dari orang tuanya yang ramah. Sementara ini kami diijinkan menginap di sini karena kendaraan menuju Dante Lemo (saya bingung Dante Lemo ato Rante Lemo namanya) ada besok pagi tapi itu pun jarang ada karena kendaraan itu hanya ramai saat hari pasar, hari pasar di daerah Barraka adalah Senin dan Kamis biasanya, sedangkan besok Rabu sangat jarang ada. Di rumah ini kami juga bertemu dengan penduduk sekitar, bercerita tentang daerah sini, dan kami juga bertukar cerita tentang asal kami masing-masing.
Day 2
Pagi hari terasa begitu dingin. Satu persatu kami bangun dan melihat pemandangan sekitar. Barraka berada diantara pegunungan yang luas, kiri kanan depan belakang pegunungan semua. Beberapa cangkir teh sudah tersedia di meja tamu. Kami sebenarnya tidak ingin merepotkan, meskipun tidak diberi makan atau minum, kami masih bisa masak sendiri dengan kompor kami. Apa boleh buat, kami tidak bisa menolak kebaikan mereka di sini. Setelah matahari sudah cukup menerangi ruang di dalam rumah, kami menghubungi beberapa kendaraan yang mungkin ingin ke Dante Lemo pagi ini, ternyata ada yang sudah berangkat subuh tadi, kami terlewati. Untuk berjaga-jaga kami disarankan agar tetap kembali ke pasar, siapa tahu ada kendaraan lagi, kebetulan di pasar ini juga ada warung yang bisa kami tempati untuk menunggu dengan pemiliknya yang ramah tamah dan baik.
Kami bertanya-tanya pada penduduk sekitar pasar tentang kendaraan yang ingin ke Dante Lemo, kebanyakan dari mereka menyarankan agar berangkat besok Kamis pagi pas hari pasar. Setelah kita berunding, apa boleh buat kami menginap semalam lagi, tapi bukan di rumah itu lagi melainkan di warung ini. Hari masih pagi untuk istirahat menunggu esok, kami bertiga berdiri di depan warung melihat kesibukkan para pelaku pasar yang terlihat seperti gulungan pita kaset yang keluar dari tempatnya. Angkutan barang pasar datang dan pergi silih berganti terus menerus, yang membuat saya tertarik adalah setiap angkutan yang datang, beberapa pria bergegas mengambil barang yang dibawa angkutan itu, mereka sangat antusias untuk menurunkan barang2 yang beratnya terlihat lebih berat dari tas yang dibawa para pendaki biasanya. Kegiatan seperti ini terus berlangsung dari pagi hingga sore hari, para penduduk sekitar bercerita kalau sebelum hari pasar kegiatan seperti ini memang selalu ada.
Tak jarang saya masuk ke belakang warung ini untuk istirahatkan mata saya yang mulai kehilangan arah, lalu keluar lagi dengan rasa penasaran. Pemandangan di pasar ini memang terlihat ramai, tapi jika kita melihat agak ke atas dan melihat sekitar pasar yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang hijau beratapkan birunya langit. Sang pemilik warung menawarkan kami untuk naik ke atas salah satu bukit itu untuk melihat pemandangan Barraka dari atas, dan kedengarannya menarik untuk dicoba nanti sore. Sementara itu kami masih tetap dengan pandangan pasar di depan, dengan mendengarkan bahasa2 khas mereka.
Sudah sore dan kamipun masing2 sudah mandi, sang pemilik warung masih sibuk dengan pelanggannya. Kami sudah siap untuk naik ke bukit yang berada pas di belakang pasar Barraka ini. Setelah melayani pembeli, kami beserta pemilik warung dan juga teman saya yang baru kenal itu menuju bukit, melewati beberapa rumah dahulu, melewati jembatan gantung yang membawa kami menyeberangi sungai. Medannya terbuka, hanya ada beberapa pohon, di atas bukit ini terdapat beberapa makam yang membuat kami menamakan bukit ini bukit kuburan. Setelah sampai di atas sini, pemandangan menjadi luas, semua pegunungan terlihat dengan rumah-rumah penduduk di sela-selanya, diiringi dengan matahari yang ingin menyelesaikan tugasnya hari ini. Pasar Barraka terlihat rapi dari atas sini, membentuk kotak-kotak seperti terminal. Udaranya terasa begitu berbeda dibandingkan jika kita berada di bawah. Setelah matahari sudah tinggal setengah tenggelam, kamipun kembali menuruni bukit kuburan ini menuju warung. Lumayan buat pemanasan sebelum menaiki tanah tertinggi Sulawesi.
Day 3
Kamis, 24 February 2011 pagi hari, kami bertiga mulai berkemas untuk berangkat menuju desa selanjutnya sembari menunggu kedatangan mobil di pasar ini. Untungnya teman saya sudah mempunyai nomor ponsel sang supir, jadi kita bisa dikabari jika mobil itu siap berangkat. Kami menyempatkan sarapan dulu yang disediakan oleh kebaikan sang pemilik warung dengan sambal khasnya yang nantinya akan membuat kami rindu. Sekitar 10.30 mobil telah menunggu kita untuk menuju Dante Lemo. Kami pun mengucapkan perpisahan dengan teman saya dan pemilik warung ini tapi ternyata kami disuruh kembali ke warung ini jika sudah turun dari gunung Latimojong, dengan senang hatipun kami mengiyakan ajakannya. Mobil menunggu kita di belakang pasar ini dan ternyata bukan kami bertiga saja yang hendak mendaki tetapi ada beberapa pendaki dari Pare-pare yang sudah berada di atas mobil yang berjenis Strada ini.
Cuaca hari ini cerah, tapi tidak dengan jalur yang akan dilewati mobil ini, jalur pertama masih aspal, lalu berubah bebatuan. Saya memasang kuda-kuda dan kedua tangan menggenggam pinggiran mobil ini karena goncangan-goncangan yang tak hentinya. Lalu jalur berubah menjadi pasir berlumpur yang membuat ban mobil hampir tenggelam, sensasi offroad benar-benar kita rasakan di sini. Tak kalah dengan pemandangan sekitar kita yang penuh dengan punggung-punggung bukit yang saling bersembunyi. Perjalanan ini melewati beberapa pinggiran pegunungan, dengan jarak jurang yang dekat di samping mobil ini. Selama perjalanan kami bertukar cerita dan bergurau dengan para pendaki dari Pare-pare mengesampingkan ketegangan yang terjadi.
Tepat jam 2 siang kita sampai di desa Dante Lemo, berhenti pas di depan sungai deras, beberapa dari kami ada yang membasuh diri di sini. Kami tak berlama-lama di sini, setelah mempersiapkan bawaan, kami berjalan kaki bersama menuju desa selanjutnya yang bernama Karangan. Perjalanan menuju Karangan melewati sungai deras ini, melalui jembatan kecil, lalu naik kepunggungan bukit. Jalur lebar, berbatu dan pasir. Cuaca mendung membuat kami sedikit terburu sebelum tenaga habis diterjang hujan, dan ternyata benar, hujan deras pun turun. Ponco kami pasang dan terus melanjutkan perjalanan, beberapa teman dari Pare ada yang berteduh di pondok perkebunan penduduk. Hujan deras ini ternyata hanya sebentar, lalu gerimis. Untuk sampai pada desa Karangan, perjalanan kami membutuhkan waktu kira2 2 jam.
Udara di desa ini sangat sejuk, dan suhu yang pasti dingin. Semua masih menggunakan rumah panggung dan aliran listrik dari turbin yang di gerakkan oleh air yang mengalir. Perkebunan utama di sini ialah kopi, yang nantinya akan sering kita lewati diawal pendakian. Awal mula kami kebingungan mencari rumah kepala dusun di sini, tak lain karena kendala bilingual. Tapi akhirnya kami menemukannya setelah salah satu warga menunjuk pada satu rumah. Di sini kami berniat untuk ijin mendaki, dan bermalam dahulu. Kehangatan di dalam rumah ini mungkin sedikit berbeda karena angin di sini yang sedikit kencang menyelinap masuk di sela-sela himpitan dinding kayu. Banyak perbincangan terjadi di sini, termasuk cerita-cerita dari seseorang yang sudah sering mengantarkan pendaki. Semakin malam, saya mulai mengeluarkan kantung tidur sambil memasak nasi untuk sarapan nanti pagi.
Day 4
Sekitar jam 4 pagi, aku terbangun dari tidurku karena terlintas lagu khas kota di telepon genggam si MRP yang sengaja dibuat sebagai alarm untuk kami bertiga. Kami memang berencana lebih pagi memulai pendakian karena estimasi perjalanan yang kami perhitungkan tadi malam dan terpaksa kami berpisah sementara dengan para pendaki dari Pare karena mereka berangkat jam 8 katanya. Udara subuh memang membuatku sedikit malas untuk keluar dari kantong tidurku. Menyiapkan makanan sebentar sambil santai menunggu dengan sedikit mata memejam. Karena nasi sudah matang tadi malam, kami tinggal memasak lauk pauknya saja.
Warna kebiru-biruan khas awal hari mulai terlihat di sela-sela dinding kayu, kami bergegas mengemasi barang-barang. Sendal dimasukkan, sepatu dikeluarkan, berpamitan kepada yang lain. Bertiga kami kumpul di depan rumah, berdoa dahulu. Tepat jam 7 pagi kami memulai pendakian ini. Rumah penduduk membuat awal langkah kami kebingungan, tapi sudah diatasi dengan bertanya kepada penduduk sekitar. Dengan bekal cerita para pendaki terdahulu, kami dipandu menuju pos 1 yang melalui beberapa cabang. Untuk menuju pos 1 kami tak perlu khawatir akan kehabisan air, karena kami melewati beberapa aliran sungai yang suaranya akan terus terdengar sampai pos 3 setidaknya. Track awal sudah membuatku bernafas kencang. Tanjakan yang begitu terjal harus kami hadapi sebelum mencapai pos 1. Sebisa mungkin kami istirahat sebentar, karena kami belum mengerti seperti apa track selanjutnya yang akan dilewati.
Sampailah kami di pos 1 08.40, pemandangan dari sini terlihat begitu memukau mata, tampak pegunungan yang memiliki punggungan yang berlipat-lipat, dan beberapa puncak yang saling berdiri tangguh menantang. Kami duduk sejenak, menenggak air minum, lalu mengisi semangat dengan pemandangan yang ada. Perjalanan kembali dilanjutkan dengan melipir pinggiran-pinggiran bukit dengan kemiringannya yang menurut saya begitu extrim, lalu terus menanjak, jalur yang kami lewati mayoritas jalur sempit yang menempel di pinggir jurang, jika saya bikin berdiri biasa hanya bisa satu kaki tegak. Akar-akar akan sangat dibutuhkan untuk pegangan. Setelah tanjakan, jalur menjadi turun naik, tergantung apa kehendak pohon itu berada, jika ada pohon di pinggir jalur otomatis kita akan melewati dan menaiki akar-akarnya yang menjulur kebawah jurang lalu turun sedikit, begitu seterusnya hingga pos selanjutnya.
Pos 2 10.15, berada pas di atas aliran deras air, di bawah tebing batu yang besar menonjol membuat ruangan di bawahnya, mungkin cukup untuk 1 tenda. Di sini kami bertemu pendaki lain dari Palopo yang hendak turun. Berbincang sejenak, mengisi ulang persediaan air. Kira-kira 15 menit kami menhabiskan waktu di sini. Dan kami memulai kembali perjalanan. Sangat mengejutkan untuk jalur awal dari pos ini, jalur sedikit melebar tetapi kemiringannya yang sangat tidak mungkin untuk dibuat berdiri tegak ataupun melepaskan tangan dari akar-akar yang ada. Dan akan terus menanjak hingga pos 3 nanti.
Dan benar juga, tanah landai selama ini hanya kami temui jika menemukan pos. 11.37 pos 3, mengatur nafas sejenak di sini. Kami tak bisa berlama-lama karena keringat yang semakin lama mendinginkan badan selain suhunya juga. Menurut saya perjalanan menuju pos 4 sudah bisa sedikit santai tapi tetap dengan tanjakan demi tanjakan yang memang tak seperti tanjakan pos 2 ke pos 3. Perjalanan yang terus menanjak membuat perut ini berontak dan pikiran saya sudah mulai stress menatap jalur, sesekali berhenti melihat kebelakang jalur yang sudah saya lewati. Ingin hati menatap langit biru dengan awannya tetapi kelebatan hutan ini masih enggan menunjukkan langit itu. Mata saya sudah mulai melihat akar-akar menari. Dan akhirnya kami pun sampai pada pos 4 12.51, tapi hanya duduk sebentar untuk menghela nafas, lalu bergegas menuju pos selanjutnya dan makan siang.
Menuju pos 5 rimba Latimojong sudah ramai dengan jenggot-jenggot lumut di sekeliling jalur. 14.50 pos 5, pos ini memiliki dataran cukup luas, biasanya para pendaki bermalam di sini, kira-kira cukup untuk mendirikan lebih dari 3 tenda isi 4 atau 3 persons. Udara di sini lebih cepat terasa dinginnya padahal baru saja kita beristirahat duduk, membongkar beberapa alat memasak. Saatnya makan siang, menuruti kemauan perut. Tanpa memasak nasi karena terlalu lama, hanya memasak bihun saja dan beberapa snack. 15.30 kami bertiga memulai kembali perjalanan stress ini setelah mengemasi tas kami masing-masing. Perjalanan saya kali ini sedikit lebih cepat dari sebelumnya yang semakin nanjak semakin melemah, stress sudah terobat bersamaan dengan terisinya perut. Matahari tepat berada di belakang kami, tidak terlalu terik karena rimba masih lebat menuju pos 6.
Pos 6, 16.20, melihat sekeliling lahan lebih sempit dari pos 5, lebar tapi miring sedikit. Selesai duduk dan mengambil beberapa foto sebentar, kami berangkat kembali Beberapa tumbuhan Cantigi mulai mendominasi perjalanan lengkap dengan jenggot-jenggot mereka yang hijau hingga coklat, saya mendapat pelajaran di sini oleh si MME bahwa ada temannya yang sedang meneliti lumut-lumut yang berbentuk seperti jenggot-jenggot ini. Lumut ini bisa menjadi ukuran sudah berapa tahun tumbuhan itu hidup atau berada. Rimba Latimojong sudah bersiap-siap untuk menyajikan pemandangannya, pepohonan sudah mulai membuka pelukkannya untuk memberikan kami kesempatan melihat birunya langit dan putihnya awan-awan, jalurpun sudah menyiapkan bebatuannya seperti karpet merah yang menyambut. Sang sumber cahaya mulai menawarkan senjanya, tepat di lahan terbuka kami melihat betapa indahnya pegunungan Latimojong, bukit-bukit yang saling berjejer, dengan selimut hijau mereka yang diwarnai sang mentari, ketenangan yang jarang saya rasakan sambil melalui jalur menuju pos 7. Nafas sudah mulai tidak teratur kembali, sesekali melihat ke bawah untuk mengobati lelah ini. Akhirnya pos 7 sudah terlihat diantara kabut tebal dan angin kencang.
Pos 7, 18.20, sangat tidak mungkin mendirikan tenda di atas tanah pos 7 ini karena angin yang datang dari beberapa penjuru, sebelah kiri pos 7 ini ada jalur sedikit kebawah menuju mata air. Kami bergegas menuju ke sana dan memutuskan untuk membuka tenda tepat di pinggir aliran sungai kecil, angin di sini tidak terlalu terasa kencang karena letaknya yang berada diantara 2 punggungan. Ujung sungai kecil ini ada air terjun kecil ke bawah menuju kolam bening, membuatku ingin melakukan hal yang tak mungkin saya lakukan dikeadaan suhu seperti ini. Gelap sudah, kami memasuki tenda membereskan beberapa barang dari dalam tas. Malam ini kami memasak di dalam tenda sekaligus agar bisa menghangatkan badan. Perbincangan demi bincangan melupakan kami akan jalur yang kami lewati selama ini. Kesunyian malam ini tak begitu terasa karena alunan dari sungai kecil yang terus mengalir mengiringi lelapnya tidur kami bertiga.
Day 5
Sebelum matahari kami bangun, untuk menyiapkan sarapan pagi agar kuat untuk menuju puncak Rante Mario. Sedikit terang membuat kami penasaran dengan keadaan di luar tenda. Kabut dan angin kencang masih tetap bermain di atas tenda kami membuat kami ragu untuk muncak saat ini. Dari tempat kami menginap memang tak terlihat seperti apa keadaan puncak gunung ini. Jadi kami memutuskan untuk menunda niat untuk puncak pagi ini sampai keadaan benar-benar cerah, setidaknya kami yang datang jauh-jauh dari tanah Jawa bisa menikmati birunya langit di Rante Mario, tanah tertinggi di Sulawesi ini. Tak lama kemudian muncul beberapa pendaki dari Pare yang berangkat bersama waktu itu dari Barraka hingga Karangan. Mereka hendak mengambil air untuk memasak di pos 7. Mereka camp di pos 5 tadi malam dan hendak menuju puncak pagi ini. Mungkin kami bisa juga bareng mereka ke puncak. Rasa penasaran kami akan keadaan dibalik kabut ini membuat tak betah berdiam lama di dalam tenda, kami memutuskan untuk mencoba ke puncak apapun yang terjadi nanti. 13.15, kami naik kembali menuju pos 7, ternyata pendaki dari Pare-pare membuka bivaknya di sini untuk menikmati sarapan terlebih dahulu. Kami berpamitan untuk duluan menuju puncak.
Jalur awal sudah menanjak kembali, tapi tidak panjang. Angin masih berhembus kencang dari segala penjuru. Di ujung tanjakan terdapat dataran yang cukup luas dengan jalur bercabang, terlihat ada telaga kecil di balik kabut, tapi kami tak sempat ke sana karena angin yang masih kencang, percabangan ini menuju puncak Nenemori jika ke kanan, dan ke kiri menuju Rante Mario. Kami meneruskan perjalanan menuju Rante Mario melalu beberapa bukit-bukit kecil, tak henti-hentinya saya mengira ujung bukit-bukit ini adalah puncaknya tapi ternyata kami belum menemukan puncak dengan triangulasinya. Langkah kami percepat untuk menghindari hembusan angin di lahan terbuka, lalu bersembunyi di sela-sela rimbunnya cantigi.
Kabut akhirnya menunjukkan Triangulasi Rante Mario, 14.25 kami menginjakkan kaki di puncak Rante Mario, angin semakin kencang membawa kabut terus ke atas, sesekali biru langit terlihat saat kami menatas di atas kepala kami, tapi hanya sedikit dan sebentar. Kami berlindung di pinggir Triangulasi menghindari angin, menunggu akan hadirnya biru langit yang megah. Para pendaki Pare-pare mulai berdatangan, mereka sangat gembira telah sampai di Rante Mario, sementara kami tetap duduk berlindung memberikan kesempatan pada mereka untuk mengambil beberapa foto dengan bendera-bendera organisasi mereka. Sangat disesalkan, tiba-tiba hujanpun turun membuat kami mulai menggigil. Dengan terpaksa kami pun meninggalkan Rante Mario. Dan kembali ke tenda kami melalui jalur yang tadi dilewati. Sampai di tenda, hujan masih mengguyur, tapi saat sore hari cuaca sangat cerah, inilah saat kami mengobati kekecewaan waktu di Rante Mario tadi, kami kembali keatas pos 7,untuk menikmati terbenamnya matahari, suasana di sinipun terasa seperti di puncak, awan yang terasa dekat, dan daratan di bawah diselimuti oleh gumpalan awan putih, lengkap dengan megahnya biru langit. Tak terlewati untuk mengabadikan momen ini. Kecepatan angin masih tergolong kencang meskipun cuaca cerah. Hingga matahari sudah tak tampak, kami kembali turun ke camp kami dan bermalam sehari lagi di sini dan kembali bercanda ria di dalam.
Day 6
Subuh hari kami bergegas membereskan semua barang untuk kembali turun, karena takut ketinggalan mobil di Dante Lemo yang hendak menuju kembali ke Barraka, perjalanan panjang kembali dilewati. Jalur yang ekstrim sangat tidak mungkin dilalui dengan jalan cepat apalagi dengan keadaannya yang becek dan curam. Perlahan demi perlahan kami teruskan, mungkin lebih mudah sewaktu mendaki naik daripada turun.
Singkat cerita, sesampai di pos 2, kami bertemu dengan beberapa orang yang hendak melakukan penelitian tikus di gunung ini, mereka memberitahu kami bahwa ada air terjun di dekat sini. Saya dan MRP mencari air terjun itu sementara MME tetap menunggu di pos 2. Jalur masih sangat terlihat baru di buat, karena banyak tanaman-tanaman yang masih terlihat baru ditebas. Menelusuri pinggiran sungai, lalu menyebrangi sungai menuju ke sisi satunya. Dan kami menemukan air terjun itu, masih terlihat pendek, tapi jika diteruskan ke atas lagi, mungkin ada yang lebih tinggi. Tapi waktu membatasi pencaharian kami berdua dan kembali ke pos 2.
Perjalanan kami teruskan hingga melewati kembali desa Karangan untuk berpamitan dengan kepala dusun, lalu bergegas menuju Dante Lemo, dengan langkah yang sudah sempoyongan. Sesampai di Dante Lemo, ternyata mobil sudah pergi meninggalkan kami. Terpaksa kami menunggu mobil lain yang hendak ke Barraka, beruntung beberapa dari kami memiliki nomor telefon sang supir, pendaki dari Pare-pare menghubunginya, dan mengabari kalau mobil akan datang nanti malam jam 8. Kami beristirahat sejenak di rumah kepala desa, memasak bersama dan bertukar cerita dengan para pendaki dari Pare-pare tentang gunung di Sulawesi dan gunung di Jawa. Gurauan demi gurauan membawa kami akan lupa dengan kelelahan dan waktu. Dan mobil pun datang, perjalanan offroad malam pun dimulai, beratapkan bintang-bintang yang terang dikarenakan gelapnya perjalanan kami. Bertiga kami sudah merasakan rindu yang mendalam pada keramahan pemilik warung di pasar Barraka itu, dengan masakannya yang khas. Tak lupa dengan suasana hingarbingar pasar Barraka.
Sisa hari di Sulawesi kami habiskan untuk keliling Makassar, dan tujuan akhir kami adalah di Bulukumba, yaitu Tanjung Bira.
Tanjung Bira di Bulukumba

Terima Kasih yang sangat besar untuk mereka yang telah membantu kami selama di Sulawesi. Kami sangat menghargainya, maaf jika kami bertiga merepotkan.
Sekian.

6 comments:
mantap tenan kawan , sebetulnya aq pingin banget ni kayak anda tapi gimana lagi kebentur pekerjaan and waktu,
@mas Ambones: klo ada waktu, ayo bareng munggah..hehehe
kami juga dari palopo mengharapkan kunjunganx lagi jangan bosan'' k sulawesi itamax dipalopo nach SALAM RIMBA
Salam Rimba juga kawans!! ga bakal bosen lah hehe
izin, beberapa foto sy 'culik' dr blog saudara.
sekedar koleksi pribadi.
sy tertarik dgn scenery dalam jepretannya, sy baru tahu kl ternyata Sulawesi selatan punya yg seindah itu jg.
pdhl lahir dn tumbuh di sana. :D
oke Fitri, sertakan link blognya ini juga yah
Post a Comment