Ceremony of Sumpah Pemuda at Mandalawangi Valley on Mount Pangrango (12-14 November 2010)


Dengan kereta dari Surabaya menuju Bandung. Berangkat sore dan tiba di stasiun kota Bandung pada pagi hari. Kedatanganku disambut dengan hujan rintik dan seorang teman yang berbaik hati mengantarkanku untuk mencari bis menuju Cibodas. Sesampai di tempat pemberhentian bis, aku melihat beberapa orang pendaki, setelah melihat sepatu mereka akupun teringat sepatuku yang ternyata tertinggal di dalam kereta, bodoh banget, itu sepatu sudah menerjang beberapa macam track gunung. Akhirnya temanku dengan baik menukar sendal gunungnya dengan sendalku yang bermodel japit. Selagi menunggu kami menyempatkan makan dulu.
Bis tak kunjung menampakkan batang hidungnya, yang ada hanya bis yang melalui jalur lain.



Berhubung waktu sudah hampir siang, kuturuti saran kondektur bis untuk oper lagi L300 nanti. Aku pun berpisah dengan temanku. Lalu menuju sebuah pertigaan untuk oper L300. Sampai pada Cibodas, cuaca masih mendung. Untuk naik menuju basecamp, naek bemo beberapa menit sampai pas depan antara basecamp Green Ranger dengan Perijinan.

Sambutan yang penuh senyum oleh teman2 Green Ranger, aku lalu dikenalkan dengan seorang pria yang bernama Idhat Lubis beserta istrinya yang sering dipanggil ”mama” oleh anak2 Green Ranger. Aku dipersilahkan untuk naik ke lantai atas untuk bergabung dengan pendaki lainnya dan beristirahat.

Pendakian dibagi beberapa kelompok, aku masuk kelompok pertama untuk memulai pendakian malam hari. Sebenarnya aku ragu dengan perjalanan malam karena ingin melihat pemandangan, tapi mungkin bisa nanti sewaktu turunnya. Selagi menunggu waktu kami dan bang Idhat berbincang-bincang di teras. Perjalanan kami mulai sekitar jam 11.30 malam, sang mama juga ikut dengan kelompok pertama. Keadaan cuaca masih mendung, kadang gerimis kadang tidak. Sesampai di sebuah shelter setelah jembatan kayu kami istirahat dulu dengan santai memasak air untuk membuat beberapa cangkir kopi. Aku dan seorang teman GreenRanger mengambil air di bawah jembatan yang tadi dilewati, ternyata arus airnya sangat deras sekali di bawah. Sekitar satu jam sudah kami istirahat, memulai perjalanan sampai melewati air terjun panas kecil dan aliran air panas di jalur, dan melewati lahan sedikit luas bernama Kandang Batu, sebelum menuju Kandang Badak kami mendirikan tenda karena beberapa mata sudah mengantuk.





Esok pagi kami melanjutkan perjalanan menuju Kandang Badak yang sudah dekat dengan camp kami. Di Kandang Badak ternyata sudah ramai pendaki, ada juga rombongan Eiger dan Srikandi Indonesia di sini. Mama dan beberapa teman camp lagi di Kandang Badak ini menunggu kelompok lain yang belum datang, aku dan sebagian teman melanjutkan perjalanan menuju puncak. Ternyata di sinilah mulai benar2 aku merasakan liarnya alam. Jalur menuju puncak Pangrango benar2 banyak pohon-pohon yang melintang, dan akar2 yang rumit. Jalurnya pun memiliki pilihan landai atau langsung memotong ke atas, tetapi sepertinya sama saja pohon dan akar2 besar melintang. Ada pula jalur yang benar2 sempit cukup hanya lewat satu kaki, ternyata jalur dari bawah sampai puncak adalah jalur air. Hujan yang awalnya hanya rintik2 menjadi sangat deras, air pun mulai mengalir deras sepanjang jalur disertai suara guntur yang terasa sangat dekat dengan kepala. Aku terus menerjang dengan beberapa kerepotan dengan jas hujan yang sering terinjak, dan sendal licin yang tidak biasa aku pakai. Dan akhirnya bibirku pun sempat menyentuh lumpur karena terpeleset tanah merosot. Aku pun terpisah dengan teman2 di depan dan belakangku.



Sesampai puncak aku kebingungan mencari jalur menuju Mandalawangi, hujan dan angin terus menyuruhku untuk berjalan. Aku menelusuri kebawah melewati beberapa Edelweis, dan akhirnya menemukan Mandalawangi. Beberapa sudah menempatkan diri di pinggir2 halaman luas ini. Kami berdiri dengan gemetar kedinginan, beberapa mencoba mendirikan tenda apa adanya untuk menghindari angin kencang yang dingin sekali.

Semua basah, dan kami semua melapaskan celana dan masuk ke dalam tenda dan sleepingbag tanpa sehelai celana. Terasa seperti di obrak abrik. Kami semua gemetar di dalam tenda menunggu hujan yang tak kunjung reda juga. Tenda pun juga mulai kemasukan air, beberapa teman ada yang mengalami kram perut dan kaki. Kami mencoba tidur duduk karena dalam satu tenda sudah tak cukup untuk merebahkan badan. Hujan sedikit reda, beberapa teman mencoba mendirikan tenda lagi. Dan malam ini tanpa masak makanan kami mencoba tidur lelap meskipun susah.

Pagi hari menyapa Mandalawangi dengan sedikit lirikan dari matahari, masing2 kelompok mulai berdatangan, aku memasak dulu, perut benar2 lapar dan lemas. Aku gabungkan masakanku dengan teman2 GreenRanger untuk makan bersama, lalu mulai mempersiapkan upacara untuk Sumpah Pemuda. Aku bersama teman2 Green Ranger melakukan gladi bersih sebelum memulai upacara yang sebenarnya. Suatu pengalaman baru aku ditunjuk untuk sesi pembacaan Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, yang dulunya sewaktu di bangku sekolah selalu bolos upacara atau berada di barisan paling belakang. Upacara Sumpah Pemuda dimulai, dari berbagai macam rombongan mulai berkumpul membentuk barisan. Selesai upacara, aku bergegas untuk packing karena waktu yang sangat mepet, harus ke bandara di Jakarta sebelum jam 9 malam. Dan besok sudah mulai ujian. Ada beberapa yang ikut turun bersamaku.

Aku kembali kerepotan dengan sendalku yang licin karena tanah2 lumpur. Aku kembali bertemu Mama di Kandang Badak, dan dari sini aku berpisah dengan rombongan GreenRanger untuk turun sendiri. Setelah melewati Kandang Batu, hujan kembali deras. Aku pun berjalan dengan derasnya air mengalir melewati kedua kaki ini. Beberapa pendaki ada yang berteduh pada shelter2 yang kulewati kembali, sepanjang perjalanan sepertinya hanya aku yang berjalan, kulihat belakang pun tak ada yang menyusul atau melintas. Hujan terus deras membuatku tak bisa mengeluarkan kameraku. Sebenarnya pemandangan di jembatan menarik untuk diabadikan. 2 jam lebih akhirnya aku bertemu kembali dengan aspal yang ternyata juga dibanjiri arus air. Sesampai di basecamp Green Ranger, bang Idhat sendirian duduk di ruang kerjanya. Aku bergegas mengganti baju basahku. Berbincang sebentar dengannya lalu kamipun berpisah. Naik bemo ke bawah untuk menuju Jakarta – SoeHatta. Karena waktu sangat mepet, penerbangan pesawat jam 9 malam nanti sedangkan sore ini katanya macet.




Di pinggir jalan raya Cibodas aku menunggu transportasi menuju bogor, sesuai dengan sarannya bang Idhat naek L300 untuk menuju ke bogor mencari bis. Tak lama mobil putih itu muncul. Aku bertanya pada pengemudi tentang transportasi menuju bandara. Sedikit tenang dengan penjelasannya dan berharap tidak ketinggalan penerbangan. Sewaktu mobil ini berhenti mencari penumpang lain, tiba2 seorang cewek berambut pendek duduk di depan menoleh ke aku dan bertanya tujuanku kemana. Dengan wajah riang gembira aku mengatakan tujuanku, dia pun menjelaskan secara rinci alur transportasinya dan kebetulan dia pun hendak menuju bandara, dan kebetulan pula dia pramugari perusahaan pesawat yang hendak aku tumpangi. Sampai di pertigaan daerah Bogor, ia mengajakku untuk bareng jalan ke terminal bis yang berada di botani squer. Dan akhirnya kami duduk berdampingan di bis Damri menuju Bandara...tetap dengan cuaca sedikit mendung gerimis...


No comments: